Deepfake Menjadi Sarana Pornografi di Sosial Media

Deepfake Menjadi Sarana Pornografi

Deepfake menjadi sarana pornografi bukanlah sebuah berita mengejutkan, karena kita tahu cepat atau lambat kejadian tragis ini pasti akan terjadi. Tak tanggung – tanggung, kurang lebih ada seratus ribu wanita menjadi korban editan rekayasa foto bugil dan disebarkan secara sengaja ke jaringan internet.

Seluruh pakaian wanita tersebut menghilang secara ajaib sehingga memperlihatkan seluruh bagian tubuhnya secara utuh tanpa sehelai benang pun. Pelaku memanfaatkan teknologi kecerdasan sintetis bernama Deepfake yang belakangan sedang naik daun, lalu menyebarkannya lewat aplikasi chatting bernama Telegram.

Deepfake Menjadi Sarana Pornografi di Sosial Media

Sebagian di antaranya kemungkinan besar merupakan gadis di bawah umur, sehingga dikhawatirkan akan mengganggu kesehatan jiwanya di kemudian hari. Sindikat pelaku sampai saat ini belum dapat ditemukan identitasnya, mengaku pada tagline buatannya bahwa ia melakukan ini semata-mata demi hiburan belaka.

Sejumlah peneliti mencoba menelusuri softwarenya dan mereka begitu terkejut saat mengetahui bahwasanya teknologi yang digunakan berupa AI. Terlebih lagi, ia bukan sembarang AI, melainkan Deepfake yang terkenal sangat pandai meniru penampilan manusia dengan akurasi nyaris sempurna.

Deepfake merupakan hasil rendering file berupa gambar maupun video yang diolah lewat program komputer berperforma tinggi. Hasil foto ataupun video yang dihasilkan setelah mendapat sentuhan Deepfake terlalu bagus hingga sulit menentukan tingkat keaslian file tersebut saking realistisnya.

Deepfake Menjadi Sarana Pornografi Meresahkan Public Figure

Deepfake menjadi sarana pornografi bukan hanya mengincar rakyat jelata, melainkan justru menyasar kepada sejumlah public figure Hollywood ternama. Terlaporkan beberapa kali sejumlah selebriti perempuan menjadi korban rekayasa Deepfake sehingga merugikan reputasinya di dunia perfilman.

Jika memang kejadian mengedit foto artis ternama sudah seringkali terjadi, mengapa publik heboh mendengar berita tersebut? Jawabannya yaitu karena untuk pertama kalinya, Deepfake menjadi alat untuk mengedit gambar yang berasal dari kalangan orang biasa sehingga masyarakat takut akan menjadi sasaran berikutnya.

Deepfake Menjadi Sarana Pornografi Meresahkan Public Figure

Kepala satuan investigasi Amerika Serikat bernama Giorgio Patrini memperingatkan masyarakat untuk lebih berhati-hati mengunggah fotonya di sosmed. Untuk sementara waktu, mereka menghimbau bahwasanya lebih baik mengunci akun sosmed ke mode privasi supaya hanya bisa dilihat oleh orang terdekat saja demi alasan keamanan.

Robot yang dilengkapi dengan kecerdasan sintetis merupakan dampak negatid dari kemajuan teknologi informasi yang melaju terlalu cepat pergerakannya. Akibatnya, umat manusia belum menyiapkan sejumlah langkah preventif untuk meminimalisir efek samping karena sulit mengejar pembaharuan ilmu teknologi yang setiap bulannya selalu ada hal baru.

AI Deepfake dapat tersemat secara legal melalui room chat milik si pelaku pada aplikasi Telegram sehingga sulit melacak praktek pornografinya. Agen pelaku dapat mengirimkan robot AI tersebut dan melancarkan aksinya dalam ‘menelanjangi’ perempuan yang menjadi korban dalam kurun waktu beberapa menit saja.

Robot AI Membuka Layanan Melalui Kanal Telegram

Sekelompok peneliti mendedikasikan dirinya sebagai kelinci percobaan dengan mengirimkan foto pribadinya ke kanal robot AI tersebut. Setelah beberapa kali pengujian, hasil menunjukkan bahwa ternyata hasilnya tidak sebagus rumor yang beredar, bahkan terdapat kecacatan seperti pusar terlalu tinggi letaknya di dada.

Sebelum Deepfake menjadi sarana pornografi, sebetulnya sudah ada aplikasi android serupa namun prakteknya ketahuan oleh Google sehingga lekas terblokir. Sang admin yang mengelola aplikasi tersebut menamai dirinya sebagai ‘P’ berujar bahwa ia cenderung santai menerima perlakuan tidak adil dari Google atas penutupan sepihaknya.

Robot AI Deepfake Menjadi Sarana Pornografi Melalui Kanal Telegram

Ia melanjutkan bahwasanya Google terlalu paranoid dengan aplikasi buatannya karena sesungguhnya hasil editan foto tersebut jauh dari kata realistis.  Menurut ‘P’, seharusnya tidak akan terjadi tindak pemerasan satu kalipun berkat aplikasi miliknya karena hasil kualitasnya hanya bertujuan untuk sekedar hiburan ringan belaka.

Ia bahkan mempunyai sejumlah team khusus yang bertugas sebagai divisi quality control untuk menyortir file kiriman dari user. Apabila mereka menemukan foto dengan profil teridentifikasi anak di bawah umur, seketika saat itu juga akan langsung ditolak dan si pengguna terblokir permanen dari aplikasinya.

Bagaimanapun, ‘P’ menyatakan disclaimer bahwa ketika foto editan sudah terkirim ke pengguna, maka itu mutlak menjadi tanggung jawab pribadi. Team mereka tidak peduli dan menyatakan menolak untuk ikut campur urusan pribadi pelanggan, karena Amerika Serikat sejatinya merupakan negara yang menjunjung tinggi kebebasan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Theme: Overlay by Kaira Extra Text
Cape Town, South Africa